EVERY BOOK HAVE THEIR OWN STORY

Rabu, 01 Oktober 2014

Sampai Nanti

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Aku ingin beristirahat namun tugas-tugas masih menunggu. Ku lihat handphone yang tergeletak disamping bantal penuh dengan notifications. Sejujurnya aku tidak tertarik melihat handphoneku karena tidak ada hal yang menarik disana. Baru saja 2 minggu yang lalu aku resmi memutuskan hubunganku dengannya, Rama. Kami memang baik-baik saja, sampai waktu itu kulihat obrolannya dengan wanita lain di BBM. Ah sudahlah, semuanya telah berakhir. Sudah cukup aku mengenalnya di hidupku lagi. Terlalu sakit mengingat-ingat tentang dirinya.
*promote*
Entahlah, ku invite pin itu, entah siapa pun itu. Aku hanya ingin mencari teman. Move on? Tidak semudah itu, tapi cukup sampai sini aku bersedih. Untuk apa memikirkan orang yang telah tega mengkhianatiku?
"PING!!", sapaku.
"Iya", jawabnya.
"Anak mana?", tanyaku, terlalu basa basi.
"Anak Cendana, sendirinya?", jawabnya ramah.
"Cendana mana? Lavela :)", kataku mencoba tersenyum walau lelah. Sepertinya orang ini baik fikirku. Tapi aku tidak berfikir lebih dari itu. Teman. Ya, hanya teman.
Malam itu kami terus chat dengan banyak pembahasan yang menurutku menyenangkan, mulai dari lagu-lagu sampai makanan kesukaan kami. Entahlah menurutnya ini menyenangkan atau tidak, tetapi aku harap ia pun merasakan hal yang sama denganku.
Baiklah, biar ku kenalkan. Namanya Ariz, nama yang bagus. Keturunan Sunda asli. Laki-laki dengan hidung mancung dan rambut ikal dengan kacamatanya yang membuatku semakin tertarik dengannya meski hanya melihat display picturenya. Orangnya menyenangkan, humoris, terbuka, dan care. Teman yang baik fikirku saat itu.
Bermula dari perkenalan singkat saat itu, aku merasa tertarik dengannya, entah karena apa. Dia baik dan aku merasakan perhatiannya yang tulus. Dia seorang yang suka sekali bergaul. Banyak kecocokan diantara kami.
Keesokan harinya aku mencoba menyapanya kembali, mengapa aku menyapanya pun aku tidak mengerti. Aku merasa nyaman ketika berbicara dengannya. Bagaikan ada tarikan dari dirinya yang membuatku nyaman berlama-lama chat dengannya. He's a simple person, and I love it. Aku memanggilnya Ariz, dia memanggilku Erin. He make my name looks cute, right?
Tidak perlu waktu lama, dalam waktu 2 minggu aku mulai terbuka dengannya. Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku kepada dirinya. Tidak ada orang yang bisa membuatku terbuka secepat itu dan dia melakukannya!
"Rin, perhatian banget sih sama Ariz? Sayang banget lo yaa sama dia?", kata temanku suatu ketika.
"Apasih, nggalah. Kan gue emang perhatian orangnya" ujarku.
Jujur, ketika temanku itu bertanya pun aku sangat bingung, karena jujur saja aku tidak mengerti perasanku padanya. Aku hanya merasa bahwa aku nyaman dengannya dengan keadaan yang seperti ini. Tidak lebih dan akupun tidak mau lebih.

***

          Hari itu perkuliahan dipercepat karena dosen mata kuliah jurusan akan menghadiri rapat. Seperti biasa, ketika tidak ada kelas lagi, aku dan teman-temanku akan mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian mahasiswa, sambil membeli cemilan lalu dengan hebohnya bercerita tentang banyak hal. Salah satunya adalah kenalan baruku ini.
            “Rin, lo kan udah lumayan lama chat sama Ariz, masa iya belom pernah ketemuan juga sih? Emangnya mau terus-terusan begini sama Ariz? Ga takut nanti nyesel ga pernah ketemuan?”, Tanya teman-temanku memberondong
           “Hahaha… iya sihh udah lumayan lama chat sama dia, pengen juga sih ketemuan, tapi gimana? Dianya aja ga pernah ajak gue buat ketemuan. Masa iya sih gue duluan yang ajak dia buat ketemu?”, ujarku sekenanya.
            “Yaudahlah Rin, ga masalah kali siapa duluan yang ngajak, tapi yaa kalo emang dia beneran serius sama lo, pasti dia bakalan ngajak lo buat ketemuan dan usaha biarpun susah”, kali ini aku menerawang.
Setelah berulang kali berfikir, temanku benar, tapi Ariz tidak pernah mengajakku untuk bertemu. Oh Tuhan berarti dia tidak serius? Aku mulai resah memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan paling buruk. Aku harus memastikannya malam ini juga.

***

            “PING!!”, sapaku terburu-buru.
            “Iya Rin, kenapa? Sampe 3 kali gitu nge-PING” balasnya.
            “Gini Riz, kita kan udah hampir satu bulan deket kaya gini, tapi kita belom pernah ketemu sekalipun, jujur gue juga ga pengen kaya gini. Tapi gue rasa kita perlu ketemu, buat saling kenal aja Riz. Boleh kan kita ketemu sebentar aja?”, ujarku tepat langsung ke sasaran.
            “Iya Rin, gue juga pengen ketemu sama lo. Tapi gue ga bisa janjiin kapannya. Maaf ya kalo gue bikin lo bete gini. Tapi jujur, gue sebenernya juga masih nunggu waktu yang tepat buat ketemu sama lo, Rin”, tolaknya mentah-mentah.
            “Riz, gue tau ini emang terlalu buru-buru, tapi gue cuma pengen tau lo aja. Besok gue libur, gue tunggu di Taman Astoria jam 5 sore. Gue harap lo dateng, Riz”, tanpa basa-basi. Oke, aku telah mengatakan semuanya kepada Ariz, tinggal bersiap-siap untuk bertemu dengan Ariz besok. Akupun terlelap dengan hati yang tidak tenang.

***

            Keesokan harinya sesudah aku selesai mengerjakan semua tugasku yang bertumpuk itu, aku bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Jeans biru dengan kaus bergaris yang ku lapisi jaket berwarna abu-abu serta kerudung hitam siap menemaniku bertemu dengan Ariz sore ini. Ku kenakan sepatu Converse dengan tergesa-gesa, tak lupa aku menyemprotkan parfum beraroma vanilla kesukaanku dan riasan tipis. Aku siap.
            Sore itu di Taman Astoria cukup lengang, hanya ada segelintir anak-anak perempuan dan dua pasangan yang duduk di bangku-bangku yang tersedia di taman itu. Aku memilih duduk di dekat lampu taman yang mulai menyala, sungguh perasaanku tidak karuan. Aku mencoba menenangkan diri dan terus melihat handphone digenggamanku. Terus berharap Ariz akan menghubungiku.
            Satu jam berlalu, magrib tiba. Namun tidak ada kabar dari Ariz, aku selalu menghubunginya tapi tidak ada tanda-tanda dia merespon ajakanku. Aku putuskan mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat magrib. Perasaanku gundah mengharapkan kabar darinya.
            Satu jam kembali berlalu, pukul tujuh tepat. Aku masih mengunggu di taman itu dengan perasaan yang semakin tak menentu. Kemana orang yang aku tunggu ini? Aku disini mengharapkan kabarnya, namun aku mencoba untuk tenang. Sabar, fikirku.
            “Riz, gue udah di Taman Astoria dari jam 5 sore tadi, gue tungguin lo dari tadi, tapi lo ga ada kabar. Emangnya kenapa sih Riz? Lo gak mau ya ketemuan sama gue?”, aku mengetik pesan itu dengan kecewa. Sungguh, aku tidak pernah dibuat menunggu seperti ini oleh siapa pun.
            Aku lirik lagi jam di handphone sambil berharap mendapatkan respon darinya. Namun tidak ada pemberitahuan apapun. Kecewa. Sangat kecewa. Waktu menunjukkan pukul 8, dengan sangat berat aku pulang. Mungkin Ariz lagi sibuk, fikirku. Lalu aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju rumah dengan air mata menitik.

***

            Hari ini tepat seminggu setelah aku menunggu Ariz di Taman Astoria, semuanya menjadi terasa menyakitkan ketika keesokan harinya ia meminta maaf atas ketidakhadirannya sore itu. Dia mengaku menyesal, tapi bukan itu yang aku mau. Terlalu kecewa. Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya. Tepat seminggu juga aku menjadi orang bodoh yang terus-menerus menunggunya di tempat yang sama, pada waktu yang sama.
            Sehari setelah kejadian itu aku kembali menunggunya, dengan style yang sama, ditemani dengan jaket abu-abu yang setia menghangatkanku dan sepatu Converse yang selalu ku ikat dengan tergesa-gesa. Terus begitu hingga hari ini. Namun tepat seminggu juga aku tak mendapatkan apapun. Semua nihil. Aku benar-benar merasa menjadi orang yang paling bodoh menunggunya dalam ketidakpastian.
            “Riz, hari ini tepat seminggu gue nunggu lo di tempat dan jam yang sama juga. Tapi gue sama sekali ga liat kemauan lo buat temuin gue. Apa kita bakalan terus begini? Cuma chat tanpa perlu tau kepribadian kita masing-masing? Cuma ngobrol tanpa tatap muka? Bagi gue ini mustahil, Riz. Gue ga bisa kaya gini. Ini terlalu fana buat gue. Gue mohon banget, respon chat gue Riz”, pesan terkirim. Aku menghela nafas, menunggu jawaban.
            Lima menit berselang, balasan pun aku dapatkan, “Rin, maaf kalo gue masih ga bisa ketemu sama lo sampai saat ini. Tapi lo perlu tau, gue pun sama kayak lo. Gue pengen banget ketemu sama lo Rin, tapi ngga sekarang. Gue ga bisa kasih alesannya kenapa, tapi gue mohon lo percaya sama gue, gue juga pengen ketemu sama lo”.
            “Apa perlu Riz gue tunggu lo terus? Buat akhirnya lo mau ketemu sama gue?” jawabku putus asa.
            “Ada saatnya Rin, tapi bukan sekarang”, aku tidak habis fikir, tidak ada satupun jawaban yang dapat masuk ke logikaku, mengapa ia tidak mau bertemu denganku.
            “Lalu? Kapan kita bisa ketemu? Segitu sulit ya buat ketemu sama gue?”
            “Pada saatnya, Rin”
           Cukup fikirku, tidak perlu lagi aku menghabiskan waktu untuk menunggu hal yang tidak pasti. Ini sudah di luar batasku. Untuk apa aku menghabiskan waktuku seminggu ini untuk menunggu ketidakpastian? Aku menyerah. Begitupun dengan percakapan kami. Aku lelah. Aku rasa memang cukup sampai disini.

***

            Hari ini tepat 3 hari setelah aku memutuskan untuk tidak menghiraukan pesan-pesan Ariz. Untuk apalagi fikirku. Dia telah melampaui batas kesabaranku. Dia terus menghubungiku, mencariku dan mengajak untuk bertemu. Namun aku tak menghiraukannya.
            Sampai akhirnya aku balas pesannya tepat pukul 10 malam.
            “Buat apalagi, Riz? Gue sibuk. Gue ga ada waktu buat ketemu sama orang yang bahkan ga bisa menghargai orang lain. Maaf, Riz. Tapi gue rasa ga akan pernah ada pertemuan pertama dan terakhir kali buat kita”. Aku langsung terlelap. Tanpa memperdulikannya lagi.

*****

            Sore itu aku lihat wajahnya yang manis, dengan kulit putih, alis tebal, hidung mancung, dan dagu berbelah. Dia tampak cantik dengan kerudung hitamnya, mungil dibalik jaket abu-abunya dan tali sepatu yang diikat asal-asalan. Parfumnya tercium dari sudut aku memandangnya. Aku sangat menyukainya. Oh.. tidak.. aku mencintainya. Dia tampak resah memandang handphone digenggamannya, seperti menunggu sesuatu. Oh, jelas.. dia menungguku.
            Ingin sekali aku menghampirinya dan menyapanya, mengatakan bahwa akulah orang yang juga sangat ingin bertemu dengannya. Namun tak bisa, aku takut menggoreskan luka. Aku takut meninggalkan lara. Aku terus memperhatikannya yang terus-menerus gelisah memandang sekelilingnya. Berharap orang yang ditunggunya datang dan menyapanya. Aku ingin. Sungguh ingin. Teramat ingin.
            Sengaja tak ku kirimkan kabar apapun padanya. Agar ia terus duduk di bawah lampu taman itu dengan wajah merenggut. Aku suka bibirnya yang merah muda dengan sedikit polesan yang membuatnya tampak lebih merona.
            Hari itu, aku biarkan handphoneku bergetar karena pesan-pesan darinya, aku terlalu sibuk. Sibuk memandang wajahnya dan gerak-geriknya. Sibuk pula melukiskan wajahnya di buku notes kosong yang sengaja aku bawa. Sungguh, dia sempurna.
            Lalu tepat pukul 8 dia pergi, dengan matanya yang memerah lalu diiringi dengan jatuhnya setetes air dari matanya yang indah itu. Wajahnya hanya diterangi lampu taman, namun rona kesedihan jelas memancar dari wajahnya.
***
            Telah aku kirimkan kata maaf itu kepadanya, aku tahu ini tak akan berguna, dia terlalu kecewa dengan perlakuanku.
Keesokan harinya, pada jam yang sama dan di tempat yang sama pula, aku kembali memandangnya di sudut yang sama. Kali ini dia mengenakan kerudung berwarna salem, serasi dengan wajahnya yang lembut. Sungguh, dirinya membuatku tak sanggup berpaling dari apapun. Dia luar biasa. Bahkan tetesan air matanya pun sangat berharga. Itu kali kedua dia menitikkan air mata, aku tak ingin ia bersedih. Tapi apa daya, aku tak ingin membuatnya lebih sakit lagi jika melihatku.
            Kali ini aku tidak melukiskan wajahnya di buku notesku. Aku menuliskan sebuah puisi, yang pada saatnya akan ku berikan padanya.
***
            Hari ini kali ketiga dia datang, wajahnya terlihat lelah. Dia masih setia mengenakan jaket abu-abunya. Aroma parfumnya pun masih sama, vanilla. Apa dia kurang istirahat? Sungguh, aku tak ingin melihatnya bersedih. Oh Tuhan, kali ini jangan biarkan air matanya menetes. Aku tak ingin ia menangis. Jaga dia Tuhan.
            Aku tuliskan doa-doaku untuknya, agar Tuhan senantiasa menjaganya, menemaninya, dan tidak membiarkan air matanya menetes lagi.
***
            Tepat empat hari sudah aku melihatnya lagi di sana, dia masih terlihat manis dengan kerudung coklatnya, kali ini ia memakai kaus panjang warna krem. Jaketnya di buka, memang hari itu cuaca cukup panas. Masih dengan sepatu Converse yang setia melekat di kakinya. Dia terlihat semakin gelisah dan lelah. Apa dia makan dengan teratur? Sungguh, aku tak ingin dia sakit. Dia terus melirik handphonenya mengharapkan kabar dari orang yang ditunggunya.
            Ia pulang lebih cepat hari itu, wajahnya pucat. Apa dia baik-baik saja? Aku tak ingin apapun terjadi padanya. Lindungi dia Tuhan, aku sayang padanya, jangan biarkan apapun mengusik tubuhnya, jaga dia. Aku mencintainya.
***
            Hari ini hari kelima, seharusnya aku dapat kembali melihat wajahnya yang memesona. Namun setelah menunggu dua jam lamanya, tak ku lihat sesosok gadis dengan senyum manis itu duduk di bawah lampu temaram taman. Kemana dia? Kemana duhai gadis yang kupuja? Apa engkau lelah duduk disana untuk menunggu? Jangan berhenti menungguku. Aku tidak pergi. Aku di sini senantiasa memandangmu.
            Namun hingga jam tanganku menunjukkan pukul 8 pun tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Hatiku sakit. Apa dia bosan? Apa dia tak kuasa lagi menunggu.
            “Erin, gimana kabarnya? Apa kamu baik-baik aja?” entah kenapa perasaanku cemas.
            “Gue ga kenapa-napa. Ada apa tanyain gue? Bahkan lo ga perlu tau keadaan gue. Gue disini baik-baik aja” jawabnya pedas. Oh Tuhan, semoga dia memang baik-baik saja.
***
            Hari keenam, dia datang lagi! Oh Tuhan, dia terlihat lebih kurus. Apa dia sakit? Matanya terlihat cekung. Ingin sekali aku menghampirinya dan memeluknya yang terlihat lemah itu. Tapi aku tak bisa Tuhan, mengapa begitu sulit? Jaketnya pun kali ini terpasang, parfumnya pun masih sama. Wangi yang selalu ku suka.
            Namun sama seperti hari keempat, dia pulang lebih cepat. Ada apa dengannya?
***
            Seminggu sudah dia duduk di bawah temaramnya lampu Taman Astoria, aku melihatnya semakin letih. Apa tugasnya banyak? Hingga dia kurang makan dan istirahat?
            “Riz, hari ini tepat seminggu gue nunggu lo di tempat dan jam yang sama juga. Tapi gue sama sekali ga liat kemauan lo buat temuin gue. Apa kita bakalan terus begini? Cuma chat tanpa perlu tau kepribadian kita masing-masing? Cuma ngobrol tanpa tatap muka? Bagi gue ini mustahil, Riz. Gue ga bisa kaya gini. Ini terlalu fana buat gue. Gue mohon banget, respon chat gue Riz”, pesannya mengejutkanku.
            Ingin rasanya aku muncul di hadapannya dan mengatakan aku disini memandangnya. Namun hari ini aku harus pulang lebih cepat.
***
            Tiga hari setelahnya, setelah keadaanku membaik, aku kembali menghubungi Erin, aku siap bertemu dengannya. Aku persiapkan segalanya dengan matang. Aku bawa semuanya, lukisan wajahnya di buku notesku, puisiku untuknya, suratku untuknya, serta doa-doa yang aku tuliskan untuknya yang aku tujukan kepada Tuhan.
            “Rin, bisa kita ketemu sekarang? Maaf kalo baru sekarang ngajak ketemu. Terlalu banyak yang harus gue selesaiin. Gue tau mungkin ini terlalu basi ya? Tapi gue mohon banget sama lo buat mau ketemuan sama gue. Gue ga janji, tapi ini bisa jadi pertemuan pertama dan terakhir kalinya, Rin. Di Taman Astoria jam 5 ya, Rin. Gue tunggu”, akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya bertemu.
            Satu jam berlalu, bahkan pesanku tidak dibaca olehnya. Setelah dua jam berlalu baru pesanku dibaca. Namun tidak ada balasan apapun. Aku terus menghubunginya, namun dia tidak meresponnya. Apa dia marah denganku? Tidak biasanya dia seperti ini. Aku takut Tuhan, aku mohon izinkan aku bertemu dengannya. Beri aku waktu, aku mohon.
            Namun semua terlihat buram, tepat ketika aku lihat dia membalas pesanku.
            “Buat apalagi, Riz? Gue sibuk. Gue ga ada waktu buat ketemu sama orang yang bahkan ga bisa menghargai orang lain. Maaf, Riz. Tapi gue rasa ga akan pernah ada pertemuan pertama dan terakhir kali buat kita”, tepat pukul 10 malam. Aku sudah tidak kuat Tuhan, apakah waktu yang Kau berikan untukku telah habis? Maafkan aku Tuhan, aku bodoh tidak memanfaatkannya untuk bertemu dengan gadis yang ku sayang ini.
*****
        Sebulan sudah aku bolak-balik tempat ini, tempat istirahat yang abadi bagi setiap yang bernyawa. Memastikan bunga di atasnya selalu segar dan tidak ada rumput liar yang tumbuh di atas pemakamannya. Orang yang sangat menyita perhatianku setiap saat.
              Ariz Putra Hendrawan bin Armanto Hendrawan.
             Ya.. ternyata dia orang yang sangat mengerti dan memahamiku. Menjadikan saat terakhirnya begitu sakit, namun sangat terkenang. Membuatku membencinya sekaligus mencintanya. Bahkan disaat terakhirnya pun dia masih menyebalkan. Dia membuat semuanya terlihat jelas dengan cara yang sulit aku pahami. Dia yang membuatku tersenyum dalam tangisku. Menjadikan semuanya begitu indah namun begitu menyedihkan. Ya. Dia yang kucinta.
***
            Ku temukan plastik hitam itu di atas bangku yang habis diguyur hujan, tepat dibawah lampu yang temaram. Bangku yang senantiasa aku duduki ketika aku menunggunya. Plastik yang cukup besar. Aku lihat sekeliling begitu sepi. Tak ada seorang pun disana. Bahkan malam itu, dingin terasa begitu menusuk.
            Aku buka perlahan plastik itu. Namun yang ku lihat potret diriku dalam kertas buram yang telah diberi pigura. Dengan kerudung hitam dan muka yang menunduk sambil memperhatikan layar handphone. Ini aku. Jelas sekali ini aku. Bagaimana bisa dia menggambarku dengan detail? Alisku, hidungku, daguku, bahkan lesung pipiku? Oh Tuhan, apakan mungkin dia menerawang wajahku dan mengira-ngira? Jelas tidak mungkin.
            Dia disini! Ya.. Jelas dia disini saat itu, tapi mengapa? Mengapa dia tidak menghampiriku? Apakah aku tidak pantas untuk bertemu dengannya?
            Lalu aku buka lagi plastik hitam itu, ku temukan fotoku dalam polaroid dengan 6 kostum yang berbeda. Ini aku saat menunggunya. Kecuali hari itu saat aku sakit. Oh Tuhan, dia disini saat itu? Tapi dimana? Dimana dia saat diam-diam mengambil gambarku? Mengapa dia tak menghampiriku?
            Ku temukan notes, lalu aku buka dan kubaca isi notes itu.

           Rin, tanpa harus kamu tau, aku selalu disana memperhatikanmu. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku melihatmu disana. Dengan segala bentuk ekspresi yang tergambar di wajahmu. Bagaimanapun itu, aku suka. Aku sampai hafal bentuk alismu, matamu, hidungmu, dagumu, dan lesung pipimu yang terbentuk indah di wajahmu. Aku memperhatikanmu tanpa harus kamu tau, aku selalu disana memandangmu. Melukis setiap inci wajahmu yang begitu indah dengan berbagai lekukannya. Memotretmu dengan kamera polaroidku yang nanti akan terus aku pandangi di saat tidurku. Sampai akhirnya aku akan benar-benar tertidur.
            Mungkin sampai saat kamu membaca tulisanku ini, kamu tak mengerti mengapa. Aku sengaja tak memberimu tahu, Rin. Semoga kamu siap mendengar ceritaku. Saat pertama kali kamu invite aku di BBM, sungguh aku telah mengenalmu. Betapapun kamu merasa kita banyak kecocokan, aku mempelajari semua kesukaanmu, dan perlahan akupun suka Rin, karena aku menyukaimu.
            Lalu saat itu kamu mengajakku bertemu, bukan maksudku menolak permintaanmu Rin, aku hanya tidak siap ketika kamu tahu bahwa aku tidak seperti apa yang kamu mau. Aku lemah Rin, waktuku tidak banyak. Bahkan ketika Tuhan memberiku pilihan, memperpanjang waktu hidupku atau membuatmu bahagia. Aku ingin memperpanjang hidupku untuk membuatmu bahagia,  tetapi tuhan memintaku kembali lalu aku memohon kepada Tuhan untuk membuatmu bahagia, Rin.
            Aku tahu, kamu bisa tanpa aku Rin. Kamu wanita yang kuat dan Tuhan telah menjadikanmu kuat sebelum dan bahkan sesudah kamu mengenalku. Kadang aku marah kepada waktu, mengapa ia begitu pasti? Aku tau saat ini akan tiba, dan mengapa aku pun masih belum siap. Namun aku tahu, Tuhan akan menjagamu, melindungimu, dan tak akan membiarkan air matamu menangis lagi seperti ketika kamu menungguku waktu itu.
            Kamu perlu tau Rin, aku mencintaimu bahkan sebelum kamu mengenalku. Dan aku akan terus mencintaimu sampai nanti kamu berhenti mengenalku.

            Tak terasa airmataku menetes. Semua terasa begitu jelas sekarang. Mengapa Tuhan tidak mengizinkanku bertemu dengannya malam itu? Tidak. Ini bukan salah Tuhan. Ini salahku. Salah takdirku. Namun akhirnya aku tahu bahwa dia melihatku, dia mempersiapkan yang terbaik untukku.
            Aku juga menemukan sebuah puisi

            Terkadang kamu harus memilih
            Bahkan yang tak kau inginkan
            Menjadikannya keputusan abadi
            Karna hidup penuh dengan pilihan

                        Jika Tuhan memberikan aku pilihan
                        Aku ingin hidup sekali lagi
                        Hanya untuk mengatakan
                        Aku sangat mencinta

            Namun Tuhan telah memutuskan
            Jika sulit mengatakan perpisahan
            Mengapa harus dikatakan, bukan?
            Bukankah hidup itu pilihan

                        Kita memang tidak dipertemukan
                        Namun bukankah kita juga tidak dipisahkan?
                        Terkadang waktu perlu terluka
                        Untuk merasakan perihnya kehilangan

***

Ku pandangi sekali lagi tanah berundak yang masih segar itu, memastikan sekali lagi bahwa tidak ada bunga yang layu dan rumput yang liar. Lalu untuk terakhir kalinya, aku lihat bunga mawar segar yang aku taruh di batu nisannya. Aku tahu, kamu lebih tenang sekarang. Mungkin nanti kita akan dipertemukan, tapi tidak disini Ariz. Sampai saatnya nanti, akan aku jaga rasa ini untukmu.

Lalu dengan senyum ku tinggalkan pemakaman itu.