Jam dinding
menunjukkan pukul 11 malam. Aku ingin beristirahat namun tugas-tugas masih
menunggu. Ku lihat handphone yang tergeletak disamping bantal
penuh dengan notifications. Sejujurnya aku tidak tertarik melihat handphoneku
karena tidak ada hal yang menarik disana. Baru saja 2 minggu yang lalu aku
resmi memutuskan hubunganku dengannya, Rama. Kami memang baik-baik saja, sampai
waktu itu kulihat obrolannya dengan wanita lain di BBM. Ah sudahlah, semuanya
telah berakhir. Sudah cukup aku mengenalnya di hidupku lagi. Terlalu sakit
mengingat-ingat tentang dirinya.
*promote*
Entahlah, ku invite pin
itu, entah siapa pun itu. Aku hanya ingin mencari teman. Move on?
Tidak semudah itu, tapi cukup sampai sini aku bersedih. Untuk apa memikirkan
orang yang telah tega mengkhianatiku?
"PING!!",
sapaku.
"Iya",
jawabnya.
"Anak
mana?", tanyaku, terlalu basa basi.
"Anak Cendana,
sendirinya?", jawabnya ramah.
"Cendana mana? Lavela :)", kataku mencoba tersenyum walau lelah. Sepertinya orang ini baik
fikirku. Tapi aku tidak berfikir lebih dari itu. Teman. Ya, hanya teman.
Malam itu kami
terus chat dengan banyak pembahasan yang menurutku
menyenangkan, mulai dari lagu-lagu sampai makanan kesukaan kami. Entahlah
menurutnya ini menyenangkan atau tidak, tetapi aku harap ia pun merasakan hal
yang sama denganku.
Baiklah, biar ku
kenalkan. Namanya Ariz, nama yang bagus. Keturunan Sunda asli. Laki-laki dengan
hidung mancung dan rambut ikal dengan kacamatanya yang
membuatku semakin tertarik dengannya meski hanya melihat display picturenya. Orangnya menyenangkan, humoris, terbuka,
dan care. Teman yang baik fikirku saat itu.
Bermula dari
perkenalan singkat saat itu, aku merasa tertarik dengannya, entah karena apa.
Dia baik dan aku merasakan perhatiannya yang tulus. Dia seorang yang suka
sekali bergaul. Banyak kecocokan diantara kami.
Keesokan harinya aku
mencoba menyapanya kembali, mengapa aku menyapanya pun aku tidak mengerti. Aku
merasa nyaman ketika berbicara dengannya. Bagaikan ada tarikan dari dirinya
yang membuatku nyaman berlama-lama chat dengannya. He's
a simple person, and I love it. Aku memanggilnya Ariz, dia memanggilku
Erin. He make my name looks cute, right?
Tidak perlu waktu
lama, dalam waktu 2 minggu aku mulai terbuka dengannya. Aku menceritakan semua
hal yang terjadi padaku kepada dirinya. Tidak ada orang yang bisa membuatku
terbuka secepat itu dan dia melakukannya!
"Rin, perhatian
banget sih sama Ariz? Sayang banget lo yaa sama dia?", kata temanku suatu
ketika.
"Apasih, nggalah.
Kan gue emang perhatian orangnya" ujarku.
Jujur, ketika temanku
itu bertanya pun aku sangat bingung, karena jujur saja aku tidak mengerti
perasanku padanya. Aku hanya merasa bahwa aku nyaman dengannya dengan keadaan
yang seperti ini. Tidak lebih dan akupun tidak mau lebih.
***
Hari itu perkuliahan dipercepat
karena dosen mata kuliah jurusan akan menghadiri rapat. Seperti biasa, ketika tidak
ada kelas lagi, aku dan teman-temanku akan mencari tempat duduk yang jauh dari
keramaian mahasiswa, sambil membeli cemilan lalu dengan hebohnya bercerita
tentang banyak hal. Salah satunya adalah kenalan baruku ini.
“Rin, lo kan udah lumayan lama chat sama Ariz, masa iya belom pernah
ketemuan juga sih? Emangnya mau terus-terusan begini sama Ariz? Ga takut nanti
nyesel ga pernah ketemuan?”, Tanya teman-temanku memberondong
“Hahaha… iya sihh udah lumayan lama chat sama dia, pengen juga sih ketemuan,
tapi gimana? Dianya aja ga pernah ajak gue buat ketemuan. Masa iya sih gue
duluan yang ajak dia buat ketemu?”, ujarku sekenanya.
“Yaudahlah Rin, ga masalah kali
siapa duluan yang ngajak, tapi yaa kalo emang dia beneran serius sama lo, pasti
dia bakalan ngajak lo buat ketemuan dan usaha biarpun susah”, kali ini aku
menerawang.
Setelah berulang kali
berfikir, temanku benar, tapi Ariz tidak pernah mengajakku untuk bertemu. Oh
Tuhan berarti dia tidak serius? Aku mulai resah memikirkan semua
kemungkinan-kemungkinan paling buruk. Aku harus memastikannya malam ini juga.
***
“PING!!”, sapaku terburu-buru.
“Iya Rin, kenapa? Sampe 3 kali gitu
nge-PING” balasnya.
“Gini Riz, kita kan udah hampir satu
bulan deket kaya gini, tapi kita belom pernah ketemu sekalipun, jujur gue juga
ga pengen kaya gini. Tapi gue rasa kita perlu ketemu, buat saling kenal aja
Riz. Boleh kan kita ketemu sebentar aja?”, ujarku tepat langsung ke sasaran.
“Iya Rin, gue juga pengen ketemu
sama lo. Tapi gue ga bisa janjiin kapannya. Maaf ya kalo gue bikin lo bete
gini. Tapi jujur, gue sebenernya juga masih nunggu waktu yang tepat buat ketemu
sama lo, Rin”, tolaknya mentah-mentah.
“Riz, gue tau ini emang terlalu
buru-buru, tapi gue cuma pengen tau lo aja. Besok gue libur, gue tunggu di Taman
Astoria jam 5 sore. Gue harap lo dateng, Riz”, tanpa basa-basi. Oke, aku telah
mengatakan semuanya kepada Ariz, tinggal bersiap-siap untuk bertemu dengan Ariz
besok. Akupun terlelap dengan hati yang tidak tenang.
***
Keesokan harinya sesudah aku selesai
mengerjakan semua tugasku yang bertumpuk itu, aku bergegas untuk mandi dan bersiap-siap.
Jeans biru dengan kaus bergaris yang ku lapisi jaket berwarna abu-abu serta
kerudung hitam siap menemaniku bertemu dengan Ariz sore ini. Ku kenakan
sepatu Converse dengan tergesa-gesa,
tak lupa aku menyemprotkan parfum beraroma vanilla
kesukaanku dan riasan tipis. Aku siap.
Sore itu di Taman Astoria cukup
lengang, hanya ada segelintir anak-anak perempuan dan dua pasangan yang duduk
di bangku-bangku yang tersedia di taman itu. Aku memilih duduk di dekat lampu
taman yang mulai menyala, sungguh perasaanku tidak karuan. Aku mencoba
menenangkan diri dan terus melihat handphone
digenggamanku. Terus berharap Ariz akan menghubungiku.
Satu jam berlalu, magrib tiba. Namun
tidak ada kabar dari Ariz, aku selalu menghubunginya tapi tidak ada tanda-tanda
dia merespon ajakanku. Aku putuskan mencari masjid terdekat untuk menunaikan
sholat magrib. Perasaanku gundah mengharapkan kabar darinya.
Satu jam kembali berlalu, pukul tujuh tepat. Aku masih mengunggu di taman itu dengan perasaan yang semakin tak
menentu. Kemana orang yang aku tunggu ini? Aku disini mengharapkan kabarnya,
namun aku mencoba untuk tenang. Sabar, fikirku.
“Riz, gue udah di Taman Astoria dari
jam 5 sore tadi, gue tungguin lo dari tadi, tapi lo ga ada kabar. Emangnya
kenapa sih Riz? Lo gak mau ya ketemuan sama gue?”, aku mengetik pesan itu
dengan kecewa. Sungguh, aku tidak pernah dibuat menunggu seperti ini oleh siapa
pun.
Aku lirik lagi jam di handphone sambil berharap mendapatkan
respon darinya. Namun tidak ada pemberitahuan apapun. Kecewa. Sangat kecewa.
Waktu menunjukkan pukul 8, dengan sangat berat aku pulang. Mungkin Ariz lagi
sibuk, fikirku. Lalu aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju rumah dengan
air mata menitik.
***
Hari ini tepat seminggu setelah aku
menunggu Ariz di Taman Astoria, semuanya menjadi terasa menyakitkan ketika
keesokan harinya ia meminta maaf atas ketidakhadirannya sore itu. Dia mengaku
menyesal, tapi bukan itu yang aku mau. Terlalu kecewa. Tapi aku sangat ingin
bertemu dengannya. Tepat seminggu juga aku menjadi orang bodoh yang
terus-menerus menunggunya di tempat yang sama, pada waktu yang sama.
Sehari setelah kejadian itu aku
kembali menunggunya, dengan style
yang sama, ditemani dengan jaket abu-abu yang setia menghangatkanku dan sepatu Converse yang selalu ku ikat dengan
tergesa-gesa. Terus begitu hingga hari ini. Namun tepat seminggu juga aku tak
mendapatkan apapun. Semua nihil. Aku benar-benar merasa menjadi orang yang
paling bodoh menunggunya dalam ketidakpastian.
“Riz, hari ini tepat seminggu gue
nunggu lo di tempat dan jam yang sama juga. Tapi gue sama sekali ga liat
kemauan lo buat temuin gue. Apa kita bakalan terus begini? Cuma chat tanpa perlu tau kepribadian kita
masing-masing? Cuma ngobrol tanpa tatap muka? Bagi gue ini mustahil, Riz. Gue
ga bisa kaya gini. Ini terlalu fana buat gue. Gue mohon banget, respon chat gue Riz”, pesan terkirim. Aku
menghela nafas, menunggu jawaban.
Lima menit berselang, balasan pun
aku dapatkan, “Rin, maaf kalo gue masih ga bisa ketemu sama lo sampai saat ini.
Tapi lo perlu tau, gue pun sama kayak lo. Gue pengen banget ketemu sama lo Rin,
tapi ngga sekarang. Gue ga bisa kasih alesannya kenapa, tapi gue mohon lo
percaya sama gue, gue juga pengen ketemu sama lo”.
“Apa perlu Riz gue tunggu lo terus?
Buat akhirnya lo mau ketemu sama gue?” jawabku putus asa.
“Ada saatnya Rin, tapi bukan
sekarang”, aku tidak habis fikir, tidak ada satupun jawaban yang dapat masuk ke
logikaku, mengapa ia tidak mau bertemu denganku.
“Lalu? Kapan kita bisa ketemu?
Segitu sulit ya buat ketemu sama gue?”
“Pada saatnya, Rin”
Cukup fikirku, tidak perlu lagi aku
menghabiskan waktu untuk menunggu hal yang tidak pasti. Ini sudah di luar
batasku. Untuk apa aku menghabiskan waktuku seminggu ini untuk menunggu
ketidakpastian? Aku menyerah. Begitupun dengan percakapan kami. Aku lelah. Aku
rasa memang cukup sampai disini.
***
Hari ini tepat 3 hari setelah aku
memutuskan untuk tidak menghiraukan pesan-pesan Ariz. Untuk apalagi fikirku.
Dia telah melampaui batas kesabaranku. Dia terus menghubungiku, mencariku dan
mengajak untuk bertemu. Namun aku tak menghiraukannya.
Sampai akhirnya aku balas pesannya
tepat pukul 10 malam.
“Buat apalagi, Riz? Gue sibuk. Gue
ga ada waktu buat ketemu sama orang yang bahkan ga bisa menghargai orang lain.
Maaf, Riz. Tapi gue rasa ga akan pernah ada pertemuan pertama dan terakhir kali
buat kita”. Aku langsung terlelap. Tanpa memperdulikannya lagi.
*****
Sore itu aku lihat wajahnya yang
manis, dengan kulit putih, alis tebal, hidung mancung, dan dagu berbelah. Dia
tampak cantik dengan kerudung hitamnya, mungil dibalik jaket abu-abunya dan
tali sepatu yang diikat asal-asalan. Parfumnya tercium dari sudut aku
memandangnya. Aku sangat menyukainya. Oh.. tidak.. aku mencintainya. Dia tampak
resah memandang handphone digenggamannya,
seperti menunggu sesuatu. Oh, jelas.. dia menungguku.
Ingin sekali aku menghampirinya dan
menyapanya, mengatakan bahwa akulah orang yang juga sangat ingin bertemu
dengannya. Namun tak bisa, aku takut menggoreskan luka. Aku takut meninggalkan
lara. Aku terus memperhatikannya yang terus-menerus gelisah memandang
sekelilingnya. Berharap orang yang ditunggunya datang dan menyapanya. Aku
ingin. Sungguh ingin. Teramat ingin.
Sengaja tak ku kirimkan kabar apapun
padanya. Agar ia terus duduk di bawah lampu taman itu dengan wajah merenggut. Aku
suka bibirnya yang merah muda dengan sedikit polesan yang membuatnya tampak
lebih merona.
Hari itu, aku biarkan handphoneku bergetar karena pesan-pesan
darinya, aku terlalu sibuk. Sibuk memandang wajahnya dan gerak-geriknya. Sibuk
pula melukiskan wajahnya di buku notes
kosong yang sengaja aku bawa. Sungguh, dia sempurna.
Lalu tepat pukul 8 dia pergi, dengan
matanya yang memerah lalu diiringi dengan jatuhnya setetes air dari matanya
yang indah itu. Wajahnya hanya diterangi lampu taman, namun rona kesedihan
jelas memancar dari wajahnya.
***
Telah aku kirimkan kata maaf itu kepadanya,
aku tahu ini tak akan berguna, dia terlalu kecewa dengan perlakuanku.
Keesokan harinya, pada
jam yang sama dan di tempat yang sama pula, aku kembali memandangnya di sudut
yang sama. Kali ini dia mengenakan kerudung berwarna salem, serasi dengan wajahnya
yang lembut. Sungguh, dirinya membuatku tak sanggup berpaling dari apapun. Dia
luar biasa. Bahkan tetesan air matanya pun sangat berharga. Itu kali kedua dia
menitikkan air mata, aku tak ingin ia bersedih. Tapi apa daya, aku tak ingin
membuatnya lebih sakit lagi jika melihatku.
Kali ini aku tidak melukiskan
wajahnya di buku notesku. Aku menuliskan
sebuah puisi, yang pada saatnya akan ku berikan padanya.
***
Hari ini kali ketiga dia datang,
wajahnya terlihat lelah. Dia masih setia mengenakan jaket abu-abunya. Aroma
parfumnya pun masih sama, vanilla.
Apa dia kurang istirahat? Sungguh, aku tak ingin melihatnya bersedih. Oh Tuhan,
kali ini jangan biarkan air matanya menetes. Aku tak ingin ia menangis. Jaga
dia Tuhan.
Aku tuliskan doa-doaku untuknya, agar
Tuhan senantiasa menjaganya, menemaninya, dan tidak membiarkan air matanya
menetes lagi.
***
Tepat empat hari sudah aku
melihatnya lagi di sana, dia masih terlihat manis dengan kerudung coklatnya,
kali ini ia memakai kaus panjang warna krem. Jaketnya di buka, memang hari itu
cuaca cukup panas. Masih dengan sepatu Converse
yang setia melekat di kakinya. Dia terlihat semakin gelisah dan lelah. Apa
dia makan dengan teratur? Sungguh, aku tak ingin dia sakit. Dia terus melirik handphonenya mengharapkan kabar dari
orang yang ditunggunya.
Ia pulang lebih cepat hari itu,
wajahnya pucat. Apa dia baik-baik saja? Aku tak ingin apapun terjadi padanya.
Lindungi dia Tuhan, aku sayang padanya, jangan biarkan apapun mengusik
tubuhnya, jaga dia. Aku mencintainya.
***
Hari ini hari kelima, seharusnya aku
dapat kembali melihat wajahnya yang memesona. Namun setelah menunggu dua jam
lamanya, tak ku lihat sesosok gadis dengan senyum manis itu duduk di bawah
lampu temaram taman. Kemana dia? Kemana duhai gadis yang kupuja? Apa engkau
lelah duduk disana untuk menunggu? Jangan berhenti menungguku. Aku tidak pergi.
Aku di sini senantiasa memandangmu.
Namun hingga jam tanganku
menunjukkan pukul 8 pun tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Hatiku sakit. Apa
dia bosan? Apa dia tak kuasa lagi menunggu.
“Erin, gimana kabarnya? Apa kamu
baik-baik aja?” entah kenapa perasaanku cemas.
“Gue ga kenapa-napa. Ada apa tanyain
gue? Bahkan lo ga perlu tau keadaan gue. Gue disini baik-baik aja” jawabnya
pedas. Oh Tuhan, semoga dia memang baik-baik saja.
***
Hari
keenam, dia datang lagi! Oh Tuhan, dia terlihat lebih kurus. Apa dia sakit?
Matanya terlihat cekung. Ingin sekali aku menghampirinya dan memeluknya yang
terlihat lemah itu. Tapi aku tak bisa Tuhan, mengapa begitu sulit? Jaketnya pun
kali ini terpasang, parfumnya pun masih sama. Wangi yang selalu ku suka.
Namun
sama seperti hari keempat, dia pulang lebih cepat. Ada apa dengannya?
***
Seminggu
sudah dia duduk di bawah temaramnya lampu Taman Astoria, aku melihatnya semakin
letih. Apa tugasnya banyak? Hingga dia kurang makan dan istirahat?
“Riz,
hari ini tepat seminggu gue nunggu lo di tempat dan jam yang sama juga. Tapi
gue sama sekali ga liat kemauan lo buat temuin gue. Apa kita bakalan terus
begini? Cuma chat tanpa perlu tau
kepribadian kita masing-masing? Cuma ngobrol tanpa tatap muka? Bagi gue ini
mustahil, Riz. Gue ga bisa kaya gini. Ini terlalu fana buat gue. Gue mohon
banget, respon chat gue Riz”,
pesannya mengejutkanku.
Ingin
rasanya aku muncul di hadapannya dan mengatakan aku disini memandangnya. Namun
hari ini aku harus pulang lebih cepat.
***
Tiga
hari setelahnya, setelah keadaanku membaik, aku kembali menghubungi Erin, aku
siap bertemu dengannya. Aku persiapkan segalanya dengan matang. Aku bawa
semuanya, lukisan wajahnya di buku notesku,
puisiku untuknya, suratku untuknya, serta doa-doa yang aku tuliskan untuknya
yang aku tujukan kepada Tuhan.
“Rin,
bisa kita ketemu sekarang? Maaf kalo baru sekarang ngajak ketemu. Terlalu
banyak yang harus gue selesaiin. Gue tau mungkin ini terlalu basi ya? Tapi gue
mohon banget sama lo buat mau ketemuan sama gue. Gue ga janji, tapi ini bisa
jadi pertemuan pertama dan terakhir kalinya, Rin. Di Taman Astoria jam 5 ya,
Rin. Gue tunggu”, akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya bertemu.
Satu
jam berlalu, bahkan pesanku tidak dibaca olehnya. Setelah dua jam berlalu baru
pesanku dibaca. Namun tidak ada balasan apapun. Aku terus menghubunginya, namun
dia tidak meresponnya. Apa dia marah denganku? Tidak biasanya dia seperti ini.
Aku takut Tuhan, aku mohon izinkan aku bertemu dengannya. Beri aku waktu, aku
mohon.
Namun
semua terlihat buram, tepat ketika aku lihat dia membalas pesanku.
“Buat
apalagi, Riz? Gue sibuk. Gue ga ada waktu buat ketemu sama orang yang bahkan ga
bisa menghargai orang lain. Maaf, Riz. Tapi gue rasa ga akan pernah ada
pertemuan pertama dan terakhir kali buat kita”, tepat pukul 10 malam. Aku sudah
tidak kuat Tuhan, apakah waktu yang Kau berikan untukku telah habis? Maafkan
aku Tuhan, aku bodoh tidak memanfaatkannya untuk bertemu dengan gadis yang ku
sayang ini.
*****
Sebulan
sudah aku bolak-balik tempat ini, tempat istirahat yang abadi bagi setiap yang
bernyawa. Memastikan bunga di atasnya selalu segar dan tidak ada rumput liar
yang tumbuh di atas pemakamannya. Orang yang sangat menyita perhatianku setiap
saat.
Ariz
Putra Hendrawan bin Armanto Hendrawan.
Ya..
ternyata dia orang yang sangat mengerti dan memahamiku. Menjadikan saat
terakhirnya begitu sakit, namun sangat terkenang. Membuatku membencinya
sekaligus mencintanya. Bahkan disaat terakhirnya pun dia masih menyebalkan. Dia
membuat semuanya terlihat jelas dengan cara yang sulit aku pahami. Dia yang
membuatku tersenyum dalam tangisku. Menjadikan semuanya begitu indah namun
begitu menyedihkan. Ya. Dia yang kucinta.
***
Ku
temukan plastik hitam itu di atas bangku yang habis diguyur hujan, tepat
dibawah lampu yang temaram. Bangku yang senantiasa aku duduki ketika aku
menunggunya. Plastik yang cukup besar. Aku lihat sekeliling begitu sepi. Tak
ada seorang pun disana. Bahkan malam itu, dingin terasa begitu menusuk.
Aku
buka perlahan plastik itu. Namun yang ku lihat potret diriku dalam kertas buram yang telah diberi pigura. Dengan kerudung hitam dan muka yang menunduk
sambil memperhatikan layar handphone. Ini
aku. Jelas sekali ini aku. Bagaimana bisa dia menggambarku dengan detail?
Alisku, hidungku, daguku, bahkan lesung pipiku? Oh Tuhan, apakan mungkin dia
menerawang wajahku dan mengira-ngira? Jelas tidak mungkin.
Dia
disini! Ya.. Jelas dia disini saat itu, tapi mengapa? Mengapa dia tidak
menghampiriku? Apakah aku tidak pantas untuk bertemu dengannya?
Lalu
aku buka lagi plastik hitam itu, ku temukan fotoku dalam polaroid dengan 6 kostum yang berbeda. Ini aku saat menunggunya.
Kecuali hari itu saat aku sakit. Oh Tuhan, dia disini saat itu? Tapi dimana?
Dimana dia saat diam-diam mengambil gambarku? Mengapa dia tak menghampiriku?
Ku
temukan notes, lalu aku buka dan
kubaca isi notes itu.
Rin, tanpa harus kamu tau, aku selalu disana memperhatikanmu.
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku melihatmu disana. Dengan segala
bentuk ekspresi yang tergambar di wajahmu. Bagaimanapun itu, aku suka. Aku
sampai hafal bentuk alismu, matamu, hidungmu, dagumu, dan lesung pipimu yang
terbentuk indah di wajahmu. Aku memperhatikanmu tanpa harus kamu tau, aku
selalu disana memandangmu. Melukis setiap inci wajahmu yang begitu indah dengan
berbagai lekukannya. Memotretmu dengan kamera polaroidku yang nanti akan terus
aku pandangi di saat tidurku. Sampai akhirnya aku akan benar-benar tertidur.
Mungkin sampai saat kamu membaca tulisanku ini, kamu tak
mengerti mengapa. Aku sengaja tak memberimu tahu, Rin. Semoga kamu siap
mendengar ceritaku. Saat pertama kali kamu invite aku di BBM, sungguh aku telah
mengenalmu. Betapapun kamu merasa kita banyak kecocokan, aku mempelajari semua
kesukaanmu, dan perlahan akupun suka Rin, karena aku menyukaimu.
Lalu saat itu kamu mengajakku bertemu, bukan maksudku
menolak permintaanmu Rin, aku hanya tidak siap ketika kamu tahu bahwa aku tidak
seperti apa yang kamu mau. Aku lemah Rin, waktuku tidak banyak. Bahkan ketika
Tuhan memberiku pilihan, memperpanjang waktu hidupku atau membuatmu bahagia.
Aku ingin memperpanjang hidupku untuk membuatmu bahagia, tetapi tuhan memintaku kembali lalu aku memohon kepada Tuhan untuk membuatmu bahagia, Rin.
Aku tahu, kamu bisa tanpa aku Rin. Kamu wanita yang kuat
dan Tuhan telah menjadikanmu kuat sebelum dan bahkan sesudah kamu mengenalku.
Kadang aku marah kepada waktu, mengapa ia begitu pasti? Aku tau saat ini akan
tiba, dan mengapa aku pun masih belum siap. Namun aku tahu, Tuhan akan
menjagamu, melindungimu, dan tak akan membiarkan air matamu menangis lagi
seperti ketika kamu menungguku waktu itu.
Kamu
perlu tau Rin, aku mencintaimu bahkan sebelum kamu mengenalku. Dan aku akan
terus mencintaimu sampai nanti kamu berhenti mengenalku.
Tak
terasa airmataku menetes. Semua terasa begitu jelas sekarang. Mengapa Tuhan
tidak mengizinkanku bertemu dengannya malam itu? Tidak. Ini bukan salah Tuhan.
Ini salahku. Salah takdirku. Namun akhirnya aku tahu bahwa dia melihatku, dia
mempersiapkan yang terbaik untukku.
Aku
juga menemukan sebuah puisi
Terkadang kamu harus memilih
Bahkan yang tak kau inginkan
Menjadikannya keputusan abadi
Karna hidup penuh dengan pilihan
Jika Tuhan memberikan
aku pilihan
Aku ingin hidup sekali
lagi
Hanya untuk mengatakan
Aku sangat mencinta
Namun Tuhan telah memutuskan
Jika sulit mengatakan perpisahan
Mengapa harus dikatakan, bukan?
Bukankah hidup itu pilihan
Kita memang tidak
dipertemukan
Namun bukankah kita juga
tidak dipisahkan?
Terkadang waktu perlu
terluka
Untuk merasakan perihnya
kehilangan
***
Ku pandangi sekali
lagi tanah berundak yang masih segar itu, memastikan sekali lagi bahwa tidak
ada bunga yang layu dan rumput yang liar. Lalu untuk terakhir kalinya, aku
lihat bunga mawar segar yang aku taruh di batu nisannya. Aku tahu, kamu lebih
tenang sekarang. Mungkin nanti kita akan dipertemukan, tapi tidak disini Ariz.
Sampai saatnya nanti, akan aku jaga rasa ini untukmu.
Lalu dengan senyum ku
tinggalkan pemakaman itu.

Ini kisah nyata??
BalasHapusceritanya sedih banget. Hampir sama kaya aku, chating sama cowo slma hmpir 10 bulan tapi dia gak prnah sekalipun ngajak ktmuan. Wktu aku ajak ketemu dia cuma bilang kalo dia enggak siap :(
Sebagian nyata sebagian fiksi kok, makasih yaa tika udah mau baca :) wah ternyata ada juga cowok kayak tokoh fiksi aku gitu,gamau ngajak ketemuan :(
BalasHapusAsik dah sebagian kisah nyata
BalasHapus